Gerakan Moral dan Gerakan Sosial Sespim Lemdiklat Polri

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Manusia sebagai mahkluk sosial membutuhkan kawanan atau kelompok yang dapat menerima, melindungi, membelanya atau sebagai tempat untuk hidup. Dalam kehidupan sosial ada keteraturan sosial yang dibangun melalui kesepakatan kesepakantan. Di balik kesepakatan tersebut ada kewajiban, tanggungjawab, ada sanksi bila melanggar. Dalam kehidupan sosial tatanan bagi keteraturan sosial ada rekayasa sosial yang merefleksikan karakter mereka.

Semakin kompleks maka akan semakin ketat kesepakatan kesepakatan yang dibuat dan menjadi hukum. Hukum dapat dikatakan sebagai produk politik untuk mewujudkan, merawat keteraturan sosial sehingga dapat mendukung untuk tercapainya tujuan bersamanya. Di dalam hukum ada sistem penegakannya, akuntabilitasnya. Di situlah hukum menjadi refleksi atas suatu peradaban. Tingkat kepatuhan hukum bagi masyarakatnya menjadi bagian dari budaya bangsa. Kualitas penegak hukum dalam menegakan hukum menjadi refleksi hidupnya hukum dan menjadi kekuatan pilar kedaulatan suatu negara.

Di setiap kawanan, kelompok, komunitas, masyarakat, bangsa maupun negara ada pemimpinnya. Atau setidaknya orang yang dituakan untuk memimpin. Pemimpin apakah orang yang diberi amanah atau kepercayaan? Jawabnya iya karena pemimpin itu mendapat amanah dan dipercaya untuk : melindungi, mengayomi, melayani, memajukan bahkan mensejahterakan. Secara mendasar dan mendalam acuan dasar pemimpin itu pada moralitas. Kebijakan yang diambil bijaksana bagi kemaslahatan dalam kehidupan sosial.

Keutamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kesadaran akan lemanusiaan, keteraturan sosial dengan patuh akan kesepakatan bersama atau hukum menunjukan tanggung jawab dan kepeduliannya sebagai mahkluk sosial. Hal tersebut terwujud dalam disiplin di kehidupan sehari harinya. Kesadaran menjadi pilar membangun keutamaan. Tatkala dipenuhi kepentingan yang berseberangan dengan aturan atau hukum yang telah disepakati maka akan terjadi konflik kepentingan. Konflik kepentingan karena ada sumber daya yang diperebutkan.

Perebutan sumber daya dalam masyarakat yang beradab ada keteraturan sosial ada keadilan, ada kekuatan untuk menjaga dan memberi sanksi atas ketidak adilan itu. Para penegak hukum adalah pihak ke tiga yang dipercaya dalam menjalankan tugasnya dengan atau tanpa upaya paksa. Penegak hukum adalah ikon dari : penjaga kehidupan, pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan.

Hukum mengatur segala sesuatu yang menjadi prinsip prinsip mendasar dan berlaku umum. Secara pragmatis banyak peluang atau celah celah untuk disalahgunakan, atau berlindung atas pemyimpangan yang dilakukan. Hukum ditegakan untuk : 1. Menyelesaikan konflik secara beradab, 2. Mencegah agar tidak terjadi konflik yang lebih luas, 3. Melindungi, mengayomi dan melayani korban dan para pencari keadilan, 4. Membangun budaya tertib, 5. Adanya kepastian, 6. Edukasi.

Hukum dan penegakannya berkaitan dengan power and authority namun di sini keutamaan menjadi kekuatanya agar mampu tebang habis, agar tetap tajam dan tidak tumpul. Walaupun dalam penegakannya penegak hukum juga penegak keadilan. Dengan landasan kemanusiaan, keadilan, kepentingan yang lebih luas dan edukasi. Akuntabilitasnya dapat ditunjukan secara : moral, hukum, administrasi, fungsional dan sosial. Karena hukum bagi meningkatnya kualitas hidup dan semakin manusiawinya manusia.

Sejalan dengan hal tersebut pemimpin adalah orang yangbpatuh hukum yang berjuang menjaga kehidupan, membangun peradabab bagi meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Keteraturan sosial merupakan pilar utama untuk mencapainya, yang setidaknya para pemimpin melakukan upaya upaya untuk :
1. Membangun Literasi
2. Membangun sistem edukasi dan transformasi melalui sistem pendidikan formal maupun non formal
3. Membangun infrastruktur dan sistem sistem online yang berbasis elektronik
4. Membangun role model atau local heroes
5. Melakukan gerakan moral dan gerakan sosial untuk kemanusiaan dan keteraturan sosial dan peradaban
6. Membangun masyarakat sadar seni budaya dan pariwisata
7. Memberdayakan guru sebagai pelopor tertib hukum
8. Memberdayakan komunitas komunitas sebagai soft power dan smart power
9. Melakukan social engineering/ rekayasa sosial
10. Membuat program program unggulan dan pilot project

“Gerakkan moral dan gerakan sosial dapat dimulai dari Rumah :
Apa saja kapan saja dimana saja dengan cara apa saja dan siapa saja bisa”
Rumah selain tempat berteduh berlindung juga tempat segala sesuatu dapat dimulai. Proses penyadaran pembangunan keteraturan sosial hingga peradaban semua dari rumah. Saat bersosialisasi secara virtual maupun aktual akan dapat dilakukan dari rumah. Rumah menjadi kekuatan dasar atau basis berbagai kekuatan kehidupan sosial kemasyarakatan. Penanaman nilai nilai kepekaan kepedulian hingga bela rasa bagi yang menderita bagi yang termarjinalkanpun dari rumah. Rumah yang homy atau yang nyaman asri aman dan ngangeni standarnya bukan pada kemewahan melainkan pada suatu rasa kemanusiaan ada aura pencerahan yang dapat dirasakan. Aura ini adalah sesuatu yang tak benda atau untangible. Sentuhan rasa pada yan tangible akan mampu membangun rasa yang untangible.

Dahulu di era presiden SBY ada gerakan rumah pintar mobil pintar yang digagas ibu Ani Yudhoyono diimplementasikan melalui perpustakaan dan kegitan literasi. Ini ide yang cerdas sayang rohnya hilang. Tatkala politik lebih dominan maka apapun sarat dengan seremonial dan kepura puraan. Roh jiwa taksu chi maupun passion tidak muncul. Komitmen dan konsistensi tergantung perintah atau pamrih dan tidak akan berani nggetih. Dampak luas bagi hidup dan kehidupan seumur jagung. Melalui gerakkan moral yang dibangun bottom up ini akan menjadi fondasi bagi hidup tumbuh dan berkembangnya kesadaran.

Gerakkam moral dari rumah tidak perlu sama karena konteksnya adalah untuk menanamkan nilai nilai kemanusiaan daru rumah. Saling menginspirasi, menjaga keteraturan sosial dari berbagi sisi atau berbagai model kegiatan. Misalnya kegiatan peduli lingkungan melalui gerakan ” bersih bersih dari rumah”. Mulai mengkategorikan hingga membuang sampah dimulai dari rumah. Menata rumah menjadi home sweet home, ” rumahku musiumku” “rumahku galeriku” dsb. Apa yang ada di rumah memiliki nilai atau makna yang sangat berharga bagi hidup dan kehidupan. Kita pun bisa menggerakkan rumah pintar yang sudah ada. Menggelorakan rumah sbg basis religi seni tradisi hobi komuniti hingga teknologi bisa dilakukan.

Tertib berlalu lintaspun dibangun dari rumah, karena keteraturan sosial ini akan dimulai saat keluar dari rumah. Secara moral niat kita sudah berupaya baik dan benar. Niat baik dan benar tatkala dapat tertanam dari rumah maka dalam hubungan sosial kemasyarakatan akan semakin mudah ditumbuhkembangkan.Apa saja kapan saja dimana saja dengan cara apa saja dan siapa saja bisa.
1.Apa saja :
Memulai apa saja dari rumah bisa.
2. Kapan saja
Kapan saja waktunya bisa kita lakukan
3. Dimana saja
Rumah kita di mana saja bisa memancarkan aura dan nilai nilai budi luhur untuk peka peduli dan bela rasa kpd manusia maupun lingkungannya
4. Dengan cara apa saja
Dari cara manual hingga virtual bisa dilakukan
5. Siapa saja bisa.

Apa saja kapan saja dimana saja dengan cara apa saja dan siapa saja bisa dimulai dari rumah untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sentuhan dari rumah menjadi sangat penting bagi munculnya keteraturan sosial bagi kekuatan untuk membangun solidaritas sosial dslam menjaga daya tahan daya tangkal hingga daya saing. Tatkala dari rumah rumah ini terbangun karakternya dapat di tingkatkan dalam berbagai community of interest. Contoh kampung code yang dirintis dan bangun romo mangun wijaya bersama para warga. Kampung tertib yang dibangun stake holder bidang lalu lintas. Rumah pintar yang mjd ikon literasi. Rumahku musiumku sbg wujud kecintaan membangun rumah sbg tempat apresiasi bagi seni budaya. Kampung seniman kampung warna warni. Dan banyak lagi yangvtelah ada dan dimulai oleh masyarakat. Ini yang perlu dikemas dimaknai dan dimarketingkan.

Dari rumahpun dapat membangun masyarakat sadar wisata. Karena sadar wisata menjadi kekuatan ubtuk cinta tanah air lingkungan kampung hingga rumah kita masing masing. Sumber daya manusia adalah aset utama bangsa. Mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi hal yang utama dan pertama dan tanggung jawab kita bersama. Tiada hari tanpa kebaikan dan perbaikan. Pembangunan nilai nilai moral dengan kesadaran tanggung jawab dan disiplin. Rumahku istanaku hidup tumbuh dan berkembang hingg kembali ke Sang khalik menjadi kebanggaan dan kecintaanku. Hidup adalah harapan tantangan perjuangan proses panjang pembelajaran dan nyali berbuat baik untuk kebaikan dan kebenarn agar semakin manusiawinya manusia.

Tertib berlalu lintas dibangun sejak dari rumah. Keluar dr rumah untuk melakukan aktivitas dg berlalu lintas sebenarnya kita sudah memasuki area publik. Pd area publik kita semua dituntut peka peduli dan berbelarasa akan keselamatan bagi diri kita maupun orang lain. Karena diri kita dapat menjadi korban atau penyebab gangguan atau rusak bahkan matinya produktifitas kita maupun orang lain. Kesadaran tanggung jawab dan disiplin dibangun sejak usia dini. Mendidik tertib berlalu lintas sejak usia dini menyelamatkan anak bangsa. Membangun lingkungan yg tertib berlalu lintas merupakan bagian daribrekayasa sosial dan transformasi sosial. Yang dapat mendidik dan memginspirasi warga untuk bangga tatkala berlalu lintas dpt tertib disiplin atau mematuhi aturan berlalu lintas. Kampung tertib lalu lintas bukan sebatas membangun infrastruktur tetapi juga membangun mental dan sebagai gerakkan moral. Sebagai gerakkan moral tentu saja secara konseptual dan kontekstual dapat dikaitkan dg norma maupun berbagai hal yang berkaitan dengan lalu lintas seperti :
1. Peraturan dan tata tertib berlalu lintas
2. Rambu marka dsb
3. Jalur pejalan kaki / pesepeda
4. Ruang berdialog atau bermain
5. Tentang kendaraan
6. Tentang jalan
7. Tentang manusia dan perilakunya
8. Tentang masalah masalah lalu lintas spt kecelakaan, kemacetan, pelanggaran lalu lintas dsb
9. Tokoh tokoh panutan
10. Gerakkan bersama dari sosialisasi dialog sampai dengan kampanye tertib berlalu lintas
11. Gerakkan miral dan sosial warga tertib berlalu lintas
Masih banyak lagi yg dpt ditunjukkan dalam konteks kampung tertib lalu lintas. Kekuatan pemgaruh positif edukatif kampung terib lalu lintas ini pada komitmen warganya dan konsistensi scr berkesinambungan menginspirasi mengedukasi dan memotivasi untuk membangun budaya tertib berlalu lintas. Stop pelanggaran stop kecelakaan keselamatan untuk kemanusiaan.

“Religi Seni Tradisi yg benda maupun tak benda dalam membangun masyarakat sadar wisata”

Membangun pariwisata seringkali hanya disentuh sebatas benda / tangible sedangkan yang tak benda atau intangible tidak di sentuh bahkan dilupakan. Yang intangible inilah esensi yang mendasar dan menjadi pilar bagi pariwisata untuk selalu ada kebaruan yang mencerahkan menyenangkan menentramkan dan membuat sesuatu baru dan ada rasa kerinduan.

Gerakan moral dan gerakan sosial merupakan upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa melalui rekayasa sosial dsb. Gerakan moral dan gerakan sosial dapat secara tematik yang diangkat atau dibuat sesuai konteks dan kebutuhannya. Bisa menggunakan seni budaya sebagai wujud t apresiasi kepada leluhur nenek moyang. Bisa juga melibatkan para ilmuwan, sektor bisnis, seniman budayawan para tokoh dan pejuang seni budaya dan kemanusiaan untuk membangun masyarakat sadar seni budaya dan pariwisata. Gerakan moral dan sosial ini menyentuh yang benda maupun tak benda. Tentu bukan dalam perhitungan semata mata untung rugi atau bisnis.

Membangun literasi seni budaya melalui sentuhan yang tak benda dapat dianalogikan mentransformasikan isi buku yang mampu mencerahkan dan mencerdaskan melalui aktivitas kegiatan nyata sehari hari. Misalnya dengan : menanam pohon, menata lingkungan, menata sampah, peduli air bersih, dsb.Tatkala warga masyarakat telah memiliki kesadaran dan terbiasa dengan maka habitys baru menjaga dan mengapresiasi kemanusiaan, keteraturan sosial, patuh hukum akan lebih mudah ditumbuhkembangkan.

Wadah bagi gerakan moral dan gerakan sosial kemasyarakatan sejatinya merupakan civil society yng merupakan basis demokrasi. Dari berbagai wadah civilnsociety literasi seni budaya yang tangible atau kebendaan dan intangible/ tak benda dapat dikembangkan sbg :
1. Pelestari seni tradisi di era kontemporer
2. Membangun ikonik seni tradisi dan religi dlm bentuk ikonik spt wayang komik kartun dan kepahlawanan
3. Sanggar seni dan budaya
4. Aktifitas penyeimbaang alam dan kehidupan melalui berbagai gerakan moral dlm social engineering
5. Pustaka religi seni dan tradisi
6. Galeri karya seni patung ukir lukis
7. Wadah kegiatan komunitas komunitas melalui panggung tradisi seni dan religi
8. Home stay
9. Cafe atau restauran
10. Art shop and galery
Dsb

Apresiasi terhadap pergerakan komunitas komunitas untuk membangun dan menggerakkan spirit membangkitkan nilai nilai kemanusiaan melalui berbagai kegiatan religi seni tradisi komuniti hobi dsn teknologi yang memberi efek luas ke masyarakat dalam menghidupkan berbagai destinasi pariwisata.Untuk menumbuhkembangkan diperlukan political will para pemimpin dalam kebijakannya untuk mengemas memaknai dan memarketingkannya. Berbagai aktifitas religi seni tradisi hobbi komuniti dan teknologi, tatkala dikemas dan dimarketingkan secara luas maka acara dan kegiatan tersebut dapat dibangun dalam bentuk festival. Disinilah peran pemimpin yang mengharmonikan antara: pemerintah, akademisi pengusaha atau sektor bisnis media dan masyarakat untuk bermitra sehingga ada kekuatan baru shg masyarkat mengerti memahami dan mampu mengapresiasi atau berusaha akan yang tangible maupun yang intangible.

Berkaitan dengan Sespim Lemdiklat Polri dalam proses pembelajarannya dapat dikaitkan dengan upaya mendukung literasi seni budaya melalui :
1. Buku buku seni budaya, tradisi dan religi dsb
2. Film panjang maupun dlm durasi singkat yang menginspirasi, memotivasi, memberi solusi, mengcounter issue hoax dan mengjibur.
3. Art Performance dalam berbagai bentuk kemasan kegiatan virtual maupun aktual
4. Booklet atau leaflet
5. Sosialisasi atau memviralkan produk produk yang ada
6. Membangun pilot project
7. Pameran
8. Lokakarya
9. Membuat perpustakaan, musium, laboraturium sosial atau pusat studi yang berkaitan dengan religi seni tradisi hobi dsb.

Sejalan dengan konteks di atas para peserta didik diajarkan dan dilatih untuk peka, peduli dan berbelarasa akan kemanusiaan, keteraturan sosial, dan membangun peradaban melalui : religi, seni, tradisi, budaya, hobi, komuniti, teknologi dsb. Gerakan moral dan gerakan sosial para peserta didik Sespim Lemdiklat Polri dimulai melalui manajemen media dengan ” Leader Branding”.
Program Leader Branding dibangun dengan membuat :
1. Company profile Sespim:
Apa bagaimana mengapa Sespim Lemdiklat Polri
2. Siapa dan apa karyanya:
Menampilkan para serdik yang berprestasi atau yang memiliki keunggulan bidang : olah jiwa ( religi dan spiritualitas ), olah rasa ( seni budaya ), olah raga.
3. Literasi kepemimpinan:
Materi pelajaran
Kontens yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan pengetahuan
Quotes
Referensi
E jurnal
E book
E library
4. Leadership dialog:
Podcast yang dikembangkan dalam berbagai forum ;
a. Forum Bhabinkamtibmas
b. Forum Masdarwis
c. Forum Hukum dan Keadilan
d. Forum Ilmu Kepolisian
e. Forum forum komunitas dsb
5. Emergency policing dan
Contigency policing:
Pola pola pemolisian dalam berbagai situasi dan kondisi serta pengambilan keputusannya
6. Gerakan cooling systemmelalui :
Seni budaya dan pariwisata bagi kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban
7. Kreatifitas dan inovasi:
Hal hal baru dan kebaruan
8. Studi kasus :
Belajar dari berbagai kejadian atau isu isu penting yang terjadi dalam masyarakat
9. Bench marking:
Studi banding dalam dan luar negeri
10. Leadership coaching:
Dialog Sespim bagi Indonesia
a. Sispam kota
b. Perbatasan
c. Konflik sosial
d. Bhabin kamtibmas
e. Model model pemolisian
f. Pemimpin dan kepemimpinannya
g. Pengamanan pemilu serentak
h. Penanganan bencana
i. Modernisasi Polri
j. Social engineering
Dsb

(CDL) Idul Fitri 220423

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *