Kelewatan, Jika NU Tidak Dukung Ganjar Pranowo

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Kurang NU apa Ganjar Pranowo ? Dia menikahi Siti Atikoh Supriyanti, putri tokoh Nahdlatul Ulama dari Purbalingga, Jawa Tengah dan cucu Kiai Hisyam Abdul Karim ulama karismatik, pejuang kemerdekaan, serta inspirator bangsa, yang sangat disegani dan dihormati. Apakah ketokohan ayah mertua Ganjar Pranowo sebagai sebagai Ulama NU masih diragukan, sehingga petinggi NU berpaling ke capres yang lain?
Apakah kekuasaan dan “cuan”, menggoyahkan “ukhuwah NU-iah” ?

Ganjar memang memiliki latar belakang GMNI (dan PDI) tapi menikah dan punya dua anak dengan wanita yang memiliki latar belakang pesantren (di Purbalingga) yang berafiliasi dengan NU (dan PPP).
Pendakwah populer, Gus Baha menyebut Ganjar Pranowo sebagai cucu dari Kiai besar. “Pak Ganjar iki putune Mbah Hisyam, lho,” kata Gus Baha, ketika Ganjar berkunjung ke rumahnya. Sekitar 15 tahun Kiai Hisyam mengembara dari satu pondok ke pondok lain di Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Hisyam muda berguru pada sejumlah ulama besar seperti Kiai Dahlan di Desa Kaliwangi Mrébét, Kiai Zuhdi di Pondok Leler Banyumas, dan Kiai Dahlan di Pondok Jampes Kediri. Seusai jadi santri di berbagai pesantren, dengan restu sang guru, Syekh Dahlan Ihsan, Kiai Hisyam kemudian mendirikan Pondok Pesantren Roudlotus Sholihin di Pedukuhan Sokawera, Desa Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga. Keterlaluan sekali kalau NU tidak mendukung Ganjar Pranowo.

AKAN TETAPI itu hanya uneg-uneg saya. Fakta obyektifnya NU tidak satu warna. Seperti agama Islam, NU tidak satu aliran dan satu faksi. Di NU juga grup yang ‘maragam ragam’ aspirasinya, ada banyak kubu. Ada NU moderat, nasionalis, ada pro fundamentalis, ada NU pro Anis, ada NU simpatisan Habib Riziek, ada NU yang menyuarakan oposan dan anti pemerintah juga. Selain NU yang sibuk menjual label halal, cari proyek di BUMN – BUMN dan cari CSR di perusahaan perusahaan besar.

Seorang teman Gus Durian menyatakan dia hapal para petinggi NU yang hobi ngejar “cuan” dan kyai NU yang ngejar perempuan. Selain kyai kyai yang istiqomah menggelar pengajian.
Memang yang mengemuka NU pro NKRI, moderat, dengan Banser sebagai pasukannya. Tapi yakinlah, kaki tangan NU ada di mana mana. Dan beda beda juga kelakuan dan orientasi politiknya.

Tak heran jika ada orang NU di Partai Golkar, PDIP, dan PKS, juga partai lainnya. Ada Nusron Wahid yang menjadi Ketua Bidang Koperasi dan UKM DPP Partai Golkar periode 2019-2024. Ada Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin, sayap organisasi Islam di PDIP. Gus Mis adalah alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1995-2000) .

Secara kesluruhan, ada 109 kepala daerah yang diusung PDIP merupakan kader Nahdlatul Ulama (NU). Jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara kader NU di partai-partai politik lainnya. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau yang akrab disapa Gus Ipin juga orang NU sekaligus politisi PDIP.
“Keharmonisan Bung Karno dan Kiai NU bisa dilihat dari rejam jejak sejarah, khususnya saat Bung Karno menyampaikan pidato Pancasila 1 Juni 1945, ” ungkap Gus Mis.

Pada 23 April 2023 ini, laman ‘Media Indonesia’ mengabarkan, ratusan kiai Nahdlatul Ulama (NU) dari seluruh Indonesia resmi menyatakan diri bergabung dan siap berjuang bersama Partai Hanura.
Menurut Ketua Umum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang, bergabungnya para alim ulama akan memperkuat semangat dan arah perjuangan Hanura dalam membangun untuk memajukan Indonesia dan menjadi energi baru bagi Hanura untuk menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Bahkan di PKS, partai bentukan Ikhwanul Muslimin Mesir, Presiden partainya, Akhmad Syaiku, mengaku orang NU. PKS adalah partai bentukan Ikhwanul Muslimin (Mesir) yang menggagas politik Islam dan mendorong berdirinya negara Islam.
Ahmad Syaiku mengaku pernah nyantri di Pesantren Buntet Cirebon dan berguru pada KH. Abbas bin Abdul Jamil. Kyai Buntet alias Kiai Abbas sendiri merupakan murid kesayangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Tokoh nasional dan Kakek Gus Dur itu – kita sama sama tahu – perumus Resolusi Jihad, dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya 21-22 Oktober 1945 – sebelum meletus pertemuran Surabaya, 27 Oktober – 10 November 1945.
Konon Ahmad Syaiku mendapat bisikan dari KH Mushtofa Aqil Siradj – adik KH Said Aqil Siradj (red) – saat bertemu di Pesantren Al-Ghadir Kempek Cirebon. “Antum ini orang NU yang disusupkan ke PKS, bukan orang PKS yang disusupkan ke NU, ” ungkapknya. “Kegiatan NU saya lakukan rutin sampai hari ini. Dari yang namanya tahlil, maulid, yasinan, sholawat dan sebagainya,” tegas Ahmad Syaikhu.
Intinya orang NU ada di mana mana. Selain di partai juga di parlemen, di tentara, polisi, ASN / PNS dan BUMN.
Tak heran, jika jelang Pilpres 2024 , ramai diberitakan, Kiai NU sudah berikan dukungan ke capres tertentu, meski PBNU secara resmi mengingatkan prinsip menjaga jarak. Imbauan berhenti sampai sekadar imbauan. Di lapangan praktik beda lagi.

Misalnya, pada Kamis, 23 Februari 2023 lalu, para kiai se-Jawa Timur menggelar musyawarah untuk menentukan arah dukungan terhadap pemimpin di Pilpres 2024. Dalam musyawarah yang digelar di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo itu, para kiai menyebut dukungan yang diberikan oleh kelompoknya berdampak luar biasa terhadap tingkat keterpilihan seseorang.
Dalam Pilgub Jawa Tengah 2019, para kiai bersama masyayih NU menyatakan dukungan kepada pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen, namun Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Nurul Huda Jazuli merasa dilupakan oleh Ganjar, sehingga pada Pilpres 2024 bakal diarahkan kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Menurut Jazuli, dukungan para kiai sangat penting untuk memuluskan langkah salah satu cicit pendiri NU, KH Bisri Syansuri tersebut meraih kemenangan.

Di tempat berbeda, puluhan kiai dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengungkap adanya gangguan dalam pencapresan Anies Baswedan di Pilpres 2024. Hal tersebut para kiai klaim setelah melakukan tirakat untuk eks Gubernur DKI Jakarta itu.
Hasil tirakat puluhan kyai itu disampaikan dalam pertemuan yang bertajuk ”Halaqah Kebangsaan: Ulama Mendoakan Anies Baswedan” di Pesantren Ribath Nurul Anwar, Sragen, Jawa Tengah. Dalam pertemuan itu, mereka mendoakan Anies selamat dari beragam gangguan selama proses pencalonannya.

RAMAINYA pernyataan dukungan beberapa kyai NU kepada beberapa sosok capres tertentu, PBNU,menyatakan telah berkomitmen tidak cawe-cawe terkait urusan dukungan capres dan cawapres.
“PBNU akan mengambil jarak yang sama terhadap semua kekuatan partai politik. Sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyyah, PBNU tidak dalam posisi dukung-mendukung capres/cawapres,” Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, Imron Rosyadi saat dihubungi Tempo, Senin, 27 Februari 2023

Menurut Imron, NU tidak sedang menjauhi atau mendekati partai politik tertentu, tetapi ingin menjaga prinsip equi distance atau menjaga jarak yang sama dengan semua partai. Ia berharap prinsip PBNU ini dapat diikuti oleh para kiai NU.
“Jika menyangkut struktur NU, mereka pasti akan segaris dengan sikap PBNU. Warga nahdliyyin secara umum juga memahami standing position PBNU. Mereka sudah matang dalam bersikap,” kata Imron. Sekali lagi, itu teori. Pernyataan resmi. Praktiknya sih lain lagi. ***https://web.facebook.com/dimas.priyanto.5855

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *