Para tersangka yang diamankan polisi

Polisi Ungkap Kasus Dugaan Pemerkosaan merupakan Kasus Persetubuhan, Begini Kata Pakar!

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Kasus dugaan pemerkosaan yang tejadi terhadap anak dibawah umur di Parigi Moutong Sulawesi Selatan (Sulteng) yang disebut kasus persetubuhan oleh Kapolda Sulteng mendapat tanggapan dari Pakar Psikologi Forensik Reza Indra Giri Amriel.

Reza mengatakan bahwa dari sisi istilah, dalam UU Perlindungan Anak yang ada adalah persetubuhan dan pencabulan. “Kosakata pemerkosaan tidak digunakan pada UU tersebut,” kata Reza dalam keterangannya yang dikirim via WhatsApp Jumat kemarin, (2/6)

Lebih jauh Reza menjelaskan Apakah persetubuhan bisa disetarakan dengan perkosaan.
“Persetubuhan dengan anak, dalam istilah asing, adalah statutory rape. Rape adalah pemerkosaan,” ungkap Dosen yang mendapat gelar Master Psikologi Forensik di Universitas Melbourne Australia ini.

Istilah statutory rape, lanjut Reza dipakai untuk mempertegas sekaligus membedakannya dengan rape. Pada rape, kehendak dan persetujuan kedua pihak ditinjau. Rape hanya terjadi ketika salah satu pihak tidak berkehendak dan tidak bersepakat akan persetubuhan yang mereka lakukan. Hal sedemikian rupa tidak berlaku pada anak-anak.

Kendati—anggaplah—anak berkehendak dan bersepakat, namun serta-merta kedua hal tersebut ternihilkan. Anak tetap dianggap tidak berkehendak dan tidak bersepakat. Sehingga, apa pun suasana batin anak, ketika dia disetubuhi, serta-merta dia disebut sebagai korban pemerkosaan atau korban persetubuhan.

“Jadi, jangan risau pada diksi yang polisi pakai. Polisi justru berdisiplin dengan istilah yang dipakai dalam UU Perlindungan Anak,” tandas pria yang mengawali kuliahnya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menurut orang Indonesia yang mendapat gelar Master Psikologi Forensik pertama ini, Siapa pun yang menyetubuhi anak tersebut, termasuk anggota Brimob sekalipun, niscaya diposisikan sebagai pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Apa jenis kejahatan seksualnya?

“Jawabannya, persetubuhan dengan anak. Atau, statutory rape alias pemerkosaan yang ditentukan sepenuhnya oleh hukum, bukan oleh ketiadaan kehendak dan kesepakatan dari pihak korban,” pungkasnya

Terkait nasib pelaku, tidak berat untuk menjatuhkan hukuman maksimal kepada mereka. Termasuk hukuman mati. “Alasannya, terutama karena korban sampai menderita masalah fisik sedemikian serius,” tandas pria yang pernah menjadi dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian tahun 2004

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *