Survei JJI Klaim Responden Pilih Airlangga Jadi Presiden RI ke Delapan

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Pesta demokrasi Indonesia semakin panas. Setidaknya sudah ada empat tokoh bakal calon presiden yang diusung oleh partai politik secara resmi, yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo serta Airlangga Hartarto yang sudah ditetapkan oleh partai Golkar sebagai Capres di pilpres 2024 dan penetapan parpol peserta pemilu 2024.

Jaringan Jurnalis Indonesia (JJI) meneliti sejauh mana reaksi dan preferensi masyarakat terhadap tokoh bakal capres dan parpol yang akan jadi pilihan mereka nanti dengan melakukan jajak pendapat tentang keinginan masyarakat terkait sosok yang presiden di masa mendatang. Tema yang diangkat yakni ‘Potret Suara Masyarakat Jelang Pemilu 2024’

Sementara itu, dari hasil penelitian ini didapati bahwa jumlah responden yang pernah memberikan hak pilih pada pemilu lalu sebanyak 60,7 persen dan yang baru akan memberikan hak pilihnya pada pemilu 2024 sebanyak 39,3 persen.

Koordinator JJI Agusta Irawan mengatakan Pilpres 2024 menjadi daya magnet bagi masyarakat untuk mengukur preferensi pilihan politik publik dalam penelitian ini yang jadi objek penelitian hanya pada tokoh bakal capres yang sangat mungkin bisa maju sebagai capres pada pilpres 2024 yaitu Airlangga Hartarto , Anies Baswedan , Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto serta Parpol yang ada di DPR RI saat ini.

Agusta menyatakan bahwa Dalam penelitian ini di dapati bahwa mayoritas responden atau 90,8 persen menginginkan sosok capres dan cawapres yang penting kandidat tersebut mampu menerapkan kebijakan pro stabilitas, pro jobs, pro environment,

Agusta mengungkapkan, kriteria sosok dari sisi kemampuan seorang presiden yang diinginkan masyarakat 91,7 persen presiden yang mampu dan punya pengalaman dalam mengelola perekonomian nasional sehingga berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat 80,9 persen.

“Masyarakat menginginkan presiden berani dan punya nyali tidak mudah ditekan oleh para pemilik modal atau negara asing yang sering merugikan masyarakat.89,8 persen masyarakat menginginkan presiden yang tidak pro terhadap Tenaga Kerja Asing yang unskill seperti masuknya TKA China disektor pertambangan dan lain-lain,” ujar Agusta, Minggu (24/6/2023) dalam keterangannya.

Kriteria sosok dari sisi kemampuan seorang presiden yang diinginkan masyarakat 91,7 persen yang diinginkan presiden yang mampu dan punya pengalaman dalam mengelola perekonomian nasional sehingga berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat 80,9 persen masyarakat menginginkan presiden berani dan punya nyali tidak mudah ditekan oleh para pemilik modal atau negara asing yang sering merugikan masyarakat 89,8 persen masyarakat menginginkan presiden yang tidak pro terhadap Tenaga Kerja Asing yang unskill seperti masuknya TKA China disektor pertambangan dan lain-lain.

Namun, jika dilihat melalui elektabilitas calon presiden (capres) dari hasil penelitian JJI menunjukkan jika pilpres digelar hari ini dari beberapa tokoh yang dipilih yakni sebanyak 34,8 persen memilih Airlangga Hartarto, sebanyak 29,2 persen Prabowo Subianto, dan sebanyak 18,7 persen memilih Ganjar Pranowo, sebanyak 7,8 persen memilih Anies Baswedan, kemudian selebihnya belum menentukan pilihan 9,5 persen.

Sementara itu, hasil penelitian menunjukan jika pemilu digelar hari maka hasil pilihan responden menjadikan Golkar sebanyak 19,7 persen, Gerindra sebanyak 18,3 persen, PDIP sebanyak 12,4 persen, PKB sebanyak 7,1, persen, Demokrat sebanyak 6,2 persen, PKS sebanyak 5,8 persen, Perindo sebanyak 4,7 persen, PPP sebanyak 3,8 persen, Nasdem sebanyak 3,2 persen, PSI sebanyak 2, 1 persen, Pan 1,9 persen dan gabungan parpol lainnya 4,4 persen, dan tidak memilih 10,4 persen.

Sementara untuk tokoh sebagai calon wakil presiden yang paling diinginkan yakni Puan Maharani sebanyak 20,2 persen, Iriana Jokowi sebanyak 16,3 persen, Sandiaga Uno sebanyak 10,1 persen, Gatot Nurmantyo 8,8 persen, mantan Panglima TNI Andika Perkasa 8,2, persen, Menkopolhukam Mahfud MD 6,7 persen dan Menteri BUMN, Erick Thohir sebanyak 5,8 persen.

Hasil riset menunjukkan alasan masyarakat memilih Iriana Jokowi sebagai wakil presiden karena Iriana lebih mengenal misi dan visi Jokowi dan banyak mengetahui kerja Jokowi.

Kepuasan Masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-Maruf Amin di bidang perekonomian 89,3 persen, Kesejahteraan sosial 71,8 persen .Bidang Hukum dan Keamanan 80,2 persen , Kesehatan dan Pendidikan 70,9 persen, sosial politik 73,8 persen.

Selanjutnya, kata Agusta, dari simulasi nama-nama menteri atau orang dekat Jokowi yang layak dipilih sebagai wapres maka nama Luhut Binsar Panjaitan 20,2 persen,Budi Gunawan 18,7 persen Pratikno dipilih sebanyak 14,8 persen, Pramono Anung 11,2 persen Moeldoko 8,3 persen, dan tidak memilih sebanyak 26,8 persen.

“Alasan LBP paling banyak dipilih karena paling mengerti dan bisa mengaplikasikan keinginan serta kebijakan dan visi serta misi Jokowi dalam program program jokowi,” ucapnya.

kesimpulan dari survei ini menunjukan bahwa publik menjadikan pemilu sebagai ajang pembentukan pemerintahan baru sehingga itu sudah di ketahui oleh publik sehingga publik mengapresiasi secara positif.

secara garis besar pesta demokrasi akan berkaitan dengan kebijakan yang bertujuan untuk memberikan kemakmuran perekonomian Tanah Air. “Ada komitmen ke situ menyangkut kepentingan bangsa dan negara dalam hal ini jadi otomatis kedaulatan rakyat terpenuhi,”

Selain itu juga pesta demokrasi yang berjalan kondusif dan menerapkan prinsip jujur dan adil juga akan memberikan dampak positif bagi kehidupan demokrasi dan pembangunan ekonomi nantinya.

Menanggapi,hasil survei Jaringan Jurnalis Indonesia (JJI), Pengamat Politik dan juga dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta, Ludiro Madu menilai bahwa masyarakat mulai melihat sosok calon presiden yang lebih memahami tentang keadaan masyarakat seperti persoalan ekonomi. Maka Airlangga Hartarto unggul karena dianggap mampu mengurusi ekonomi Indonesia.

“Saya melihat Airlangga Hartarto unggul dari survei JJI, karena masyarakat anggap mampu urus ekonomi,” kata Ludiro.

Ludiro mengatakan, Airlangga mampu menerapkan kebijakan pro stabilitas, pro jobs, pro environment, karena pengalaman di bidang ekonomi dan persoalan lainnya.

Selain itu, kata Ludiro, citra positif Airlangga dimata publik saat ini juga mendongkrak elektabilitas Airlangga sebagai capres. Ini juga bisa menambah nilai bagi Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut.

“Citra Positif Airlangga dimata publik mendongkrak elektabilitas Airlangga sebagai capres, hal ini juga menambah nilai,” ujarnya.

Menurut dia, Partai Golkar di Pemilu 2024 dapat menjadi partai yang dipilih masyarakat ditambah adanya figur Airlangga.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, peluang Airlangga menang di pilpres 2024 sangat besar jika mesin politik Golkar terus berjalan. “Peluang menang Airlangga sebagai capres besar jika mesin politik Golkar terus berjalan,” ungkapnya.

Kesempatan Airlangga menjadi capres 2024 menjadi momen Golkar sebagai Partai besar yang selalu didukung masyarakat.Sehingga ini modal Golkar wujudkan Ketum Golkar itu sebagai presiden 2024.

Namun, terkait munculnya Iriana Jokowi sebagai cawapres di survei JJI sangat mengejutkan, karena nama Iriana Jokowi tidak pernah muncul di survei.

Munculnya Iriana Jokowi karena dianggap bisa melanjutkan kerja Presiden Jokowi, karena istri Jokowi tersebut lebih paham tentang kerja yang dilakukan Jokowi. “Ya sangat mengejutkan ada nama Iriana Jokowi masuk di survei JJI sebagai cawapres, tentu ini hal yang wajar karena Iriana Jokowi tahu dan paham atas kerja Jokowi,” pungkasnya

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *