Tersangka pembuat bom saat dialog

Pengakuan Pembuat Bom Polsek Astana Anyar Bandung Dunia Penuh Dengan Bid’ah

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Tersangka S alias Supri (pembuat bom Astana Anyar) ketika diajak dialog mengapa ingin membunuh orang lain sebanyak-sebanyaknya, dia menjawab jumawa; “dunia sudah penuh dengan bid’ah, khurafat dan riba. Maka daripada mengganggu kehidupan beragama kami, para pelaku maksiat itu harus kami habisi!.” Pengakuan Supri pembuat bom di Polsek Astana Anyar, diungkapkan di instagram islah_bahrawi, dikutip Sabtu(12/8).

Sebelum melakukan dialog dengan para tersangka teroris, pada dasarnya saya sudah mendapat petunjuk tentang mereka. Semisal buku apa saja yang dibaca, postingan dan komentarnya di media sosial, kajian agama yang biasa mereka datangi, hingga ustadz siapa saja yang biasa mereka tonton di media sosial.

Tapi semua itu belum cukup tanpa ada pengakuan dari para tersangka. Saya mengajak mereka berdiskusi melalui pendekatan rasionalitas sederhana tentang perbedaan dan diaspora manusia. Tak ada dalil agama yang didebatkan, karena dalil hanya akan menjadikan Tuhan sebagai obyek sengketa.

Proses penyadaran awal dimulai dari diskusi ini. Lambat laun mereka diharapkan akan menyadari bahwa beragama bukan untuk membenci. Sungguh tidak mungkin agama-agama diturunkan Tuhan untuk menjadi sumber huru hara. Juga tidak mungkin suatu agama dirancang Tuhan agar menjadi ruang kebencian antar manusia.

Berbagai konflik yang mengatasnamakan agama hari ini dipicu oleh perbedaan tafsir-tafsir agama. Kita harus mengakui, ada beberapa tafsir agama yang mengklaim dirinya paling benar dengan selalu menyalah-nyalahkan tafsir orang lain. Membid’ahkan dan memfasikkan siapapun yang berbeda tafsir dengan mereka.

Kebencian dan kekerasan atas nama agama selalu dimulai dari “merasa paling benar”. Para tersangka teroris yang hampir semuanya menganut tafsir tersebut, lalu menganggap bahwa kebencian, pengkafiran dan disafiliasi kemanusiaan adalah ajaran agama. Mereka merasa diperintah Tuhan untuk membinasakan yang berbeda.

Para teroris melihat kehidupan berketuhanan hanya dalam konteks “kami bukan mereka”. Mereka lalai dalam membangun kesadaran kolektif bahwa semua manusia dilahirkan dengan harga diri yang sama. Mereka tidak pernah menyadari bahwa semua manusia, apapun agamanya, diciptakan oleh Tuhan yang sama. (ig islah_bahrawi)

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *