Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.

Urgensi Menjadi Pribadi yang Baik

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap muslim wajib bershadaqah”, para sahabat bertanya: “bagaimana kalau ia tidak mempunyai sesuatu untuk dishadaqahkan?” Nabi menjawab: “hendaklah ia bekerja hingga ia dapat mencukupkan kebutuhannya sendiri dan dapat pula bershadaqah”; para sahabat bertanya lagi: bila ia tidak dapat bekerja bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menolong orang yang memerlukan pertolongan. Para sahabat bertanya pula: bila ia tidak juga bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menyuruh orang lain berbuat yang baik. Para sahabat masih bertanya lagi: bila beramar ma’ruf pun ia tidak dapat, bagaimana? Nabi menjawab: hendaklah ia menahan diri dari keburukan; sungguh menahan diri dari keburukan itu merupakan shadaqah” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, dan an-Nasaai dari Abu Musa al-Asy’ari ra).

Dikisahkan beberapa golongan dari Sahabat mulia yang tidak banyak memiliki harta, namun keinginan besar untuk bersedekah, sebagaimana sahabat lain bersedekah, menahan diri dari meminta-minta. Memenuhi keinginan mereka, para sahabat tersebut pun berusaha untuk bekerja, di antaranya bekerja di pasar sebagai pemanggul barang atau kuli panggul untuk mendapatkan upah dan agar dapat bersedekah.

Kemudian, ditanyakan, bagaimana jika seseorang atau terdapat orang yang tidak dapat bekerja? Sebagaimana dalam hadits di atas jawaban Nabi adalah menolong orang yang memerlukan pertolongan. Artinya, menolong orang yang dalam kondisi membutuhkan pertolongan, maka pertolongan tersebut yang merupakan kebaikan, adalah sedekah baginya.

Pertolongan terhadap orang membutuhkan bisa dalam berbagai kondisi. Dalam konteks ini Kyai Abdullah Zein menjelaskan bisa berbentuk kezaliman. Terdapat perlakuan zalim oleh seorang terhadap orang lain.
Menurutnya, terdapat kewajiban untuk menolong, bahkan terhadap keduanya; agar korban penzaliman tidak berlanjut dizalimi dan pelaku agar tidak melakukan penzaliman. Pertolongan menurutnya merupakan hak bagi keduanya. Maka pemenuhan hak atas keduanya merupakan kewajiban bagi yang lain sekaligus merupakan sedekah.
Selanjutnya jika tidak mampu melaksanakan poin di atas tersebut, maka Rasulullah menyeru untuk memerintahkan kepada perbuatan baik sebagai penunaian kewajiban sedekah.
Menyuruh kepada kebaikan seperti mengajak salat berjama’ah di masjid, membangunkan tidur untuk melaksanakan Tahajjud, atau amalan lain yang dapat dikatakan tidak membutuhkan biaya sebagai contoh bentuk sedekah yang dapat dilakukan.

Selanjutnya dan paling akhir sekaligus puncak adalah pada seruan untuk berdiam diri saja atau tidak melakukan kejahatan adalah suatu sedekah. Menahan diri dari keburukan ditekankan rasul sesungguhnya merupakan sedekah.

Dari poin di atas semuanya menjadikan diri sebagai sosok yang baik, dengan tidak menjadi penyebab keburukan, juga gangguan terhadap orang lain adalah sedekah. Bahkan menjadi baik adalah keniscayaan.
Kondisi diri dalam keadaan baik adalah suatu yang dituju ternyata bukan hanya sekedar kebaikan semata tanpa makna. Terdapat hikmah bahwa menjadi pribadi yang baik dinilai sedekah.

Kebaikan menjadi kondisi, tidak hanya pribadi atau sosok yang baik. Namun dengan menahan diri dari keburukan, baik terhadap diri sendiri atau keburukan berupa gangguan terhadap orang lain juga merupakan sedekah itu sendiri, baik terhadap diri sendiri atau pun orang lain.

Ternyata ada sedekah kepada diri sendiri. Dikatakan kebaikan terhadap diri sendiri dapat dipahami sebagaimana terdapat dalam hadits yang penulis kutip berikut sekaligus sebagai penutup pembahasan dalam artikel ini:
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap sendi tubuh setiap orang di antara kamu harus disedekahi pada setiap harinya. Mengucapkan satu kali tasbih (“Subhanallah”) sama dengan satu sedekah, satu kali tahmid (“Alhamdulillah”) sama dengan satu sedekah, satu kali tahlil (“La ilaha illallah”) sama dengan satu sedekah, satu kali takbir (“Allahu Akbar”) sama dengan satu sedekah, satu kali menyuruh kebaikan sama dengan satu sedekah, dan satu kali mencegah kemungkaran sama dengan satu sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan melaksanakan dua rakaat shalat dhuha.” (HR Muslim dan Abu Dawud).Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* Penulis Lepas Yogyakarta

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *