Kasus Vina Cirebon,10 Orang Minta Perlindungan LPSK

Comment
X
Share

POSKOTA.TV – Penyelidikan kasus Vina menemui babak baru, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah menerima permohaan 10 orang dari kedua belah pihak.
“Saat ini LPSK telah menerima permohonan pengajuan terhadap kasus Vina Cirebon total ada sebanyak 10 orang. Kesepuluh orang itu dari kedua belah pihak meminta perlindungan masih dalam assestment tim,” ujar Ketua LPSK Achmadi di Kantor LPSK , Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (11/6).

Achmadi mengatakan kasus Vina mulai mencuat ramai di publik, sehingga LPSK pada pertengahan Mei 2024 telah membuat tim dan menugaskan secara khusus melakukan tindakan proaktif dalam pendalaman kasus tersebut.
“Kita akan berkoordinasi kepada Polda Jawa Barat, Polres Cirebon, serta pihak keluarga korban dimaksudkan untuk menggali dan memberikan informasi kepada saksi atau maupun keluarga korban untuk perlindungan saksi,” tambahnya.

Dalam hal ini Achmadi menambahkan para pimpinan LPSK pun ikut turun langsung ke daerah Cirebon Jawa Barat.
Upaya langkah LPSK, Achmadi menuturkan intinya melakukan perlindungan untuk memberikan rasa aman pada saksi dan korban dan pihak keluarganya untuk memberikan proses keterangan dalam peradiran di Pengadilan Negeri.

“Pertimbangan langkah-langkah proaktif itu penting bagi LPSk untuk memberikan langkah aman bagi saksi dan korban atau memberikan pendampingan pada proses peradilan kasus tersebut tentu agar dapat membantu tindak pidana. Inisiatif langkah proaktif ini tidak serta merta membuat saksi dan atau keluarganya mengajukan lermohonan perlindungan ke LPSK begitu saja tapi perlu ada assesment,” tuturnya.

Pasa kenyataanya Achmadi menyebutkan para saksi korban masih memerlukan membutuhkan pertimbangan, waktu, dan untuk mengajukan permohonan sebagai bentuk meminta bantuan perlindungan atau tidak.
“Dalam hal ini LPSK hadir dalam mendalami kasus sehingga dapat memberikan perlindungan, saksi korban. Kareba korban ini adalah alami penderitaan secara fisik, mental dan ekonomi,” tuturnya.

Sesuai aturan Pasal 5 UU No 31 Tahun 2014, lanjut Achmadi saksi korban secara pribadi dapat dilindungi.
“Ada tantangan dalam proses dilakukan oleh tim. Karena kasus ini terjadi sudah 8 tahun lamanya, ada saksi-saksi atau keluarga korban tidak mudah mengingat fakta-fakta yang diketahui,” tuturnya.

Beberapa pendapat beragam berkembang di media terkait kasus Vina ini, lanjut Achmadi sangat menjadi penting dalam beberapa pertimbangan dari saksi sudah pada pindah tempat tinggal.
“Dari 10 orang yang mengajukan perlindungan saat ini masih dalam pendalaman assesment sehingga butuh waktu termasuk langkah assesment psikologia tepat. Sehingga perlu sangat hati-hati dalam pendalaman terus dilakukan,” tutupnya.
“Kita mendukung upaya Polri dalam pemeriksaan internal terhadap anggota Polri yang bersentuhan langsung sehingga kasus Vina ini dapat terang benderang jelas bagi publik,” tutupnya. (Admin)

Read Also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *